Connect with us

Nasional

Teror Pinjol Semarang: 3 Ambulans Kena Prank Order Fiktif

Published

on

gambar ambulance antasena semarang

Semarang(usmnews) – Di kutip dari Kompas.com Oknum penagih pinjaman online (pinjol) kembali berulah di Kota Semarang dengan modus yang sangat keterlaluan. Kali ini, pelaku menggunakan layanan darurat sebagai alat intimidasi untuk menagih utang. Sebanyak tiga unit ambulans terjebak dalam order fiktif di kawasan Semarang Barat pada Rabu (4/2/2026). Aksi ini memicu kemarahan publik setelah video deretan ambulans yang mengantre di depan rumah warga viral di media sosial.

Penagih Pinjol Kelabui Petugas Ambulans Antasena

Admin Ambulans Antasena, Aldy (25), menceritakan bagaimana pelaku menyusun skenario penipuan ini. Sekitar pukul 13.00 WIB, seseorang bernama Adi Prasetya menghubungi pihaknya untuk memesan layanan antar-jemput pasien. Pelaku berdalih membutuhkan bantuan medis untuk membawa pasien dari Jalan Puspowarno menuju Rumah Sakit Columbia Asia.

Pelaku bertindak sangat meyakinkan dengan mengirimkan data pasien lengkap, nama pemilik rumah, hingga titik lokasi presisi melalui WhatsApp. Tanpa sedikit pun rasa curiga, tim ambulans langsung memacu kendaraan menuju alamat tersebut demi misi kemanusiaan. Namun, setibanya di lokasi, kenyataan pahit justru mereka dapati. Pemilik rumah bernama Lia mengaku dalam kondisi sehat dan tidak pernah memesan ambulans.

Baca juga : Tutup Pinjol, Pemuda asal Surabaya Curi 200 Modem Senilai Rp48 Juta

Pelaku Ancam Kerahkan Unit Pemadam Kebakaran

Aldy kemudian mencoba mengklarifikasi pesanan tersebut dengan menghubungi kembali nomor sang pemesan. Bukannya meminta maaf, pelaku justru secara terang-terangan mengakui aksi tersebut sebagai cara memaksa korban melunasi hutang. Pelaku bahkan memberikan ancaman susulan yang lebih besar jika tuntutannya tidak terpenuhi.

“Pelaku justru menyuruh kami menagih utang Rp14 juta ke pemilik rumah. Dia mengancam akan memanggil unit Pemadam Kebakaran (Damkar) jika utang tersebut tidak segera lunas,” ujar Aldy. Ternyata, dua unit ambulans dari penyedia jasa lain juga tiba di lokasi yang sama dengan instruksi serupa. Menurut pengakuan Lia, rumahnya juga menjadi sasaran berbagai kiriman paket fiktif sejak sehari sebelumnya, yang memperkuat indikasi teror psikologis oleh debt collector.

Aksi Prank Merugikan Operasional Layanan Darurat

Tindakan tidak bertanggung jawab ini memberikan pukulan telak bagi operasional ambulans swasta. Para petugas harus menanggung kerugian biaya bahan bakar (BBM) dan tenaga secara pribadi. Mengingat tarif layanan ambulans di Semarang berkisar antara Rp350.000 hingga Rp500.000, aksi prank ini sangat merugikan para relawan medis.

Selain kerugian materi, penyalahgunaan fasilitas publik ini mengancam nyawa masyarakat luas. Saat armada terjebak dalam pesanan palsu, orang lain yang benar-benar membutuhkan pertolongan medis darurat terancam tidak terlayani. Masyarakat mendesak pihak kepolisian dan OJK untuk segera mengusut tuntas identitas pelaku agar teror serupa tidak terulang kembali dan mengganggu ketertiban umum.

Baca Juga : Pahami Kesehatan Mental dan Bahaya Self-Diagnosis

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *